Give Away: Kain Tenun Indonesia

Standard

Dear travelers yang suka nulis, khususnya bagi pecinta kain… saya baru saja menyelesaikan tulisan tentang kain tenun di beberapa desa di daerah Flores, NTT. Saya merencanakan akan melanjutkan ekspedisi kain ke desa-desa tenun lainnya yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia tercinta kita ini. Saya butuh bantuan teman-teman untuk merekomendasikan tempat atau destinasi penghasil tenun yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tentang tempat-tempat yang pernah saya kunjungi bisa dibaca di blog saya ini.

 

Read the rest of this entry

Eksotisme 5 Desa Penghasil Tenun di Nusa Bunga, Flores

Standard

blog 2a

 

Artikel ini sudah dimuat di Majalah Femina Edisi II, 10-16 Januari 2015.

Sedikit cuplikan dari artikel tersebut:

Bagi pecinta kain, tenun merupakan salah satu daftar wajib untuk dikoleksi, karena terhitung ekslusif dan tidak mainstream. Selain itu, belakangan ini beberapa desainer terkenal juga mulai melirik kain tenun. Berbanggalah, Indonesia merupakan negeri yang dianugerahi motif kain tenun yang sangat kaya, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dan kalau kita bicara soal penghasil kain tenun berkualitas, Flores termasuk dalam daftar unggulan. Saya menyusuri 5 desa yang tersebar di pelosok Flores untuk mengagumi kekayaan motif kain tenunnya. 5 Desa itu antara lain: Desa Onelako, Desa Wolotopo, Desa Bena, Desa Mbuli Lo’o dan Desa Sikka.

Sedangkan mama-mama penenun yang saya ajak ngobrol-ngobrol dapat dilihat di foto ini🙂

 

blog 2b

Pesona Bawah Laut Nusa Telu

Standard

blog 1a

 

Artikel saya ini dimuat di Tabloid Cempaka, edisi Sabtu, 10 Januari 2015 dengan judul yang sama.

Sedikit cuplikan dari artikel tersebut:

Pulau Nusa Telu atau Pulau Tiga merupakan gugusan elok tiga pulau yang terdiri dari Nusa Lain (Pulau Satu), Nusa Hatala (Pulau Dua) dan Nusa Ela (Pulau Tiga). Dari ketiga pulau itu, hanya Pulau Dua yang tidak berpenghuni. Jika untuk sampai ke Desa Asisulu kita membutuhkan waktu sekitar dua jam berkendara dari kota Ambon, maka untuk sampai ke Pulau Dua (Nusa Hatala) kita butuh waktu sekitar 15 menit dari Desa Asilulu dengan menggunakan perahu ketingting. Warga di sini menyebutnya bodi. Perahu ini bentuknya kecil, muat hanya sekitar 5 orang, dan bila ada ombak agak kencang atau ada salah satu penumpang yang bergerak keras ke kiri atau kenan, perahu itu akan oleng mengikuti gerakan. Serem. 

 

Sedangkan sebagian kecil keindahan bawah laut Nusa Telu bisa dilihat di foto ini🙂

 

blog 1b

Dilema, Adakah Jalan Tengah?

Standard

Indonesia memiliki potensi wisata yang sangat kaya, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Baik dilihat dari sisi peninggalan sejarahnya, kehidupan masyarakat tradisional lengkap dengan budaya yang beragam, maupun keindahan alamnya. Banda Neira di Maluku, selain memiliki kekayaan bawah laut yang mengagumkan, juga memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Begitu juga Trowulan, Jawa Timur, yang meninggalkan jejak peninggalan kerajaan Majapahit. Sumba, NTB, memiliki keunikan rumah-rumah tradisional yang memukau. Begitu juga dengan Toraja, Sulawesi Selatan. Bali, sudahlah, jangan ditanya. desa sade, lombok

Desa Sade, Lombok

Belakangan ini, saya lebih memfokuskan diri untuk menjelajahi wilayah Nusa Tenggara dan Maluku. Melihat keindahan alamnya, sulit bagi saya untuk menyembunyikan ekspresi kekaguman yang lahir dari lubuk hati. Paling sederhana, saya akan mengeluarkan decak kekaguman ‘Wow!’ dengan mata terbelalak. Tapi di sisi lain, mata saya tak bisa abai dengan kondisi perekonomian masyarakatnya dan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Seolah keindahan alam itu tak sebanding dengan taraf hidup masyarakatnya yang menyedihkan. donggo, bima NTB

Desa Donggo, Bima, NTB

Desa Pemo, misalnya. Desa ini terkenal dengan ritual adat Joka Ju, yang diselenggarakan setahun sekali setiap bulan Oktober.  Lokasinya dekat dengan Danau Kelimutu, Flores, dan memiliki pesona alam yang mengagumkan. Mata ini dimanjakan oleh pemandangan perkebunan kopi, bukit-bukit hijau dan rumah-rumah penduduk di tepi tebing. Tapi di sisi lain, perjalanan ke desa itu tidaklah mudah. Jalan menuju kesana kondisinya rusak dan sempit. Saya bayangkan, betapa sulitnya jalan yang harus ditempuh warga di sini untuk menjual hasil perkebunannya. Selain itu, mata saya juga tidak bisa abai melihat kondisi rumah-rumah warga yang sangat memprihatinkan. Rumah-rumah berukuran mungil yang terbuat dari kayu, berdinding bambu beratapkan seng. 
Read the rest of this entry

Melipir ke Kampung Nelayan, Desa Sikka, Flores

Standard

Saya tidak akan mengelak dengan apa yang dikatakan situs
sunsigns tentang tanggal kelahiran saya yang jatuh pada 10 Agustus, bahwa saya orangnya cenderung spontan dan impulsif, suka menuruti kata hati. Karena memang begitulah adanya.

10-august-birthday-leo

 

Dalam perjalanan mengelilingi Flores NTT beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Desa Sikka yang jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Maumere.

sikka2

 

Sepanjang perjalanan menuju lokasi desa itu, mata saya dimanjakan oleh pemandangan tepian pantai yang luar biasa indah! Di pinggir kanan jalan yang meliuk-liuk seperti ular, saya menyaksikan warna biru air laut, buih ombak yang bergulung-gulung, pasir yang hitam dan batu karangnya, seolah membentuk suatu karya yang sempurna. Para warga di sini, menyebutnya Pantai Selatan. Read the rest of this entry

Selalu Ada Cara Untuk Mencintai Indonesia

Standard

travel bloger indonesiaSebagai seorang traveler Indonesia, kita pasti akan dengan senang hati dan rela ‘mempromosikan’ destinasi-destinasi wisata yang ada di negara kita ini. Melalui berbagai media, kita meluangkan waktu untuk menuliskan kisah dan keindahan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Malalui tangan dan pena para traveler Indonesia, pembaca diajak untuk menikmati dan mengagumi keindahan dari tempat atau destinasi yang dikunjunginya. Read the rest of this entry